Selalu saja ada
detik misterius yang menyelinap masuk membuka kembali kenangan setelah lama
dilipat rapi. Sebab tidak ada langkah yang tepat selain terus berjalan saling
melempar kenangan demi kenangan itu. Tapi, apalagi yang bisa kuingat selain
Kau.
Pukul 09.00
pagi. Jakarta sudah seperti sebuah kotak yang dilumuri gula, lalu semut-semut
yang kelaparan mulai datang berdesakan untuk menikmati gula-gula tersebut.
Penuh sesak di pagi yang setiap harinya akan sama seperti ini. Kendaraan
bermotor yang seperti semut-semut kelaparan itu mulai memenuhi jalanan di pusat
kota, pengap penuh debu bersama teriknya matahari yang bisa saja membakar
kulit. Namun, mereka tetap bangga pada ibu kota ini. Entahlah, apa mungkin
karena kota ini bisa jadi tempat orang-orang mencari mimpinya.
Rani mencium
aroma yang tidak asing. Ya, aroma kopi hitam yang sejenak menyeretnya pada masa
lalu. Pagi itu ia tiba di kantor lebih pagi. Ia bekerja sebagai asisten editor
di salah satu majalah terbesar di Jakarta. Ritual yang pertama kali dilakukannya
sebelum duduk di meja kerjanya adalah membuat kopi hitam tanpa gula. Dua sendok
kopi hitam dan setengah cangkir air panas selalu ditaruhnya di meja kerjanya.
“Heran, bikin
kopi kenapa enggak suru ob saja sih?” Fania teman satu kantornya mengamati
gerak-gerik wanita yang hobi menyesap kopi tiga cangkir sehari itu membawa kopi
di tangan kanannya dan tumpukan majalah di tangan kirinya.
“
Selain gue,
siapa yang lagi bikin kopi Fan?” tanyanya singkat.
“Tadi sih liat Katty bikin kopi juga di pantry.
Tapi kayaknya dia bawa kopi sendiri.”
“Ooh. Dia bawa
kopi apa ?” Rani masih terus bertanya.
“Duh neng
gue mana paham sih tentang kopi. Yang gue tau kopi itu wanginya dimana-mana
sama.”
Terbawa
suasana, siang itu gerimis. Dilihatnya air hujan dari kaca jendela yang
berjarak tiga meter dari pandangannya jatuh sedikit demi sedikit membasahi kaca
membuat lukisan embun yang tak beraturan. Jakarta seketika menjadi romantis
menelisik diam-diam masuk merobek memori
lamanya. Tiga tahun lalu di sebuah kedai kopi di Bali.
Kopi Kintamani Bali
yang katanya telah memiliki sejarah panjang yang akan selalu di ingat oleh para
penikmatnya. Kopi yang juga mendapatkan reputasi yang baik dan dikenal sebagai
salah satu dari “origin coffee” kopi asli asal di Indonesia ini memiliki cita
rasa yang lembut dan tidak terlalu pahit.
Menyesapnya
dalam-dalam membuat hatiku ingin pulang padamu. Itu saja. Aku sudah bahagia.
Nyatanya, jangan pernah melibatkan secangkir kopi di masa lalumu. Hanya ada dua
pilihan. Setengah mati kau akan merindukan masa dimana kau menyesapnya atau
melupakannya sampai kau patah hati.
“Ini wangi kopi
Kintamani Bali.” katanya dalam hati
**
Tiga tahun
lalu. Ketika ia bekerja sebagai jurnalis di salah satu media cetak di Bali.
Rani mengenal seorang pria kelahiran Bali bernama I Made Satria. Ia bekerja di
salah satu kedai kopi di kawasan Ubud Bali. Kawasan yang memang terkenal dengan
kedai kopi dengan teras persawahan yang hijau serta semilir angin yang
membawamu pada ketenangan hati.
“Kami tak
pernah mengalami sebuah cerita cinta. Kami hanya bercerita tentang secangkir
kopi. Tapi aku benar-benar munafik sebab kau benar-benar membuatku patah hati
dengan cerita kopimu yang membuatku jatuh cinta padamu”
Sejenak ia
mengingat sosok pria keturunan bali itu yang selalu setia menunggunya
menyelesaikan naskah-naskah liputan sembari membuatkannya secangkir kopi.
“Ini untukmu geg.
Secangkir kopi Kintamani yang kucelupkan dua biji kopi di dalamnya” kata pria
berkulit sawo matang itu.
“Apa itu geg?”
tanyanya.
“Jegeg adalah
istilah wanita cantik dalam bahasa bali.”
“Kau sedang
merayuku? Tapi sayangnya aku bukan wanita yang mudah dirayu. Kecuali kau
seduhkan kopi Bali ini setiap hari untukku.”
Mereka berdua
tertawa lepas. membunuh waktu dengan obrolan seputar kopi Kintamani yang lembut
dan harum.
“Kalo kau punya
waktu. Aku ajak menikmati kopi Kintamani dari daerah asalnya di Kintamani. Kau
bisa menikmati sepuasnya kopi ini dengan pemandangan Gunung Batur tapi jangan
salahkan aku kalau kau melah jatuh cinta pada tempat itu dan memutuskan untuk
tidak pulang ke Jakarta.”
Satria berlalu
menuju meja kerjanya yang dipenuhi puluhan toples berisi biji kopi yang siap di
sulapnya menjadi minuman ternikmat di dunia itu.
Masih mengetik
sisa naskah. Wanita itu terdiam melihat satria yang tersenyum sembari
membuatkan secangkir cappuccino untuk tamu yang duduk di sudut kedai kopi
dengan pemandangan sawah yang belum menguning.
Lamunanya
terhenti. Belum selesai pekerjaannya, ia mengambil ponsel dari dalam tas nya.
Ia mengirimkan sebuah pesan pada sahabatnya Tari.
“Kita harus ketemu sore ini. Di Anomali
setiabudi ya Tar.”
“Ada apa sih,
non?” balas Tari.
“Urgent.”
**
Tidak banyak
tamu yang datang sore itu. Di salah satu kopi shop di kawasan Setiabudi. Kopi
shop yang katanya memiliki rasa kopi yang berbeda dan digemari banyak para
wisatawan asing itu memang selalu ramai pada malam hari. Rani memasuki kopi
shop yang berada di lantai dua sebuah gedung perkantoran itu. Warna merah dan
putih yang mendominasi di setiap ruangan terlihat elagan.
“Pesan cappuccino
dan air mineralnya satu ya.”
“Ada lagi, kak?”
tanya sang waitres ramah”
“Hmm kopi
Kintamani deh, satu.”
“Tiramisu dan cheese
cake- nya fresh the oven, kak?” Tanya sang waitres lagi.
“Tidak, terima
kasih. Nanti saja.”
Baginya cita rasa
sebuah kopi akan rusak ketika menyeruputnya dengan sepotong kue manis. Lidah
tidak akan sinkron, sebab ada banyak rasa yang di ecapnya.
Masih duduk
manis, 30 menit kemudian Tari datang melambaikan tangannya dari luar pintu kaca
yang transparan. Dengan wajahnya yang sumringah, Rani nampak tersenyum menyipitkan matanya
melihat Tari yang membalas senyumannya.
“Gue harus balik ke Bali minggu depan!
“Haaa, loe
serius? mau ngapain Ran?” tanya Tari terkejut.
“Satria.”
“Barista itu? jangan
gila.”
Sang waitres
datang menaruh satu cangkir kopi cappuccino dan kopi Kintamani Bali. Tari
melongo melihat dua cangkir kopi di atas meja. Ia terdiam melihat wajah
sahabatnya yang tiba-tiba hilang kendali.
“Loe nangis?”
digenggamnya tangan Rani yang tiba-tiba dingin.
“Gue harus
balik Tar. Gue nggak mau menyesal. Itu saja.”
“Tapi Ran.
Semuanya udah terlambat. Loe harus lupain dia. Loe bukannya bilang kalo dia
itu?”
“Ah, sudahlah.
Pokoknya minggu depan gue ke Bali.” Katanya dengan nada serius.
Aku yang kejam.
Hingga ingin rasanya menyumpahi diriku sendiri untuk tidak pernah mengalami
sebuah cinta lagi. Sedang, nyatanya hanya padamu hatiku ingin pulang.
**
Bisakah kau
lihat. Hamparan laut biru nan luas itu mencari pesisir menuju jalan pulang di
pantai Kuta. Sedang aku menjadi se-ekor burung yang terbang dan menari-nari di
atasnya. Tak seorang pun mengetahui aku tengah mengawasi mereka dari ketinggian
ribuan meter di atas permukaan laut. Para surfer digulung ombak di lautan luas,
mereka jatuh lalu bangkit dan kembali
bermain-main dengan ombak menuju pantai. 20 menit pesawat landing di Bandara Ngurah
Rai Bali.
“Selamat datang
rumah kedua.”
Bali masih sama
seperti tiga tahun yang lalu. Terik matahari, semilir angin yang berhembus
kencang dan keramahan masyarakatnya. Rani tiba pukul empat sore. Matahari masih
sangat terik. Ia mencari taxi menuju jalan pandu di Denpasar tempat indekosnya
dulu. Untunglah Bali tidak sedang macet sore itu. 30 menit ia sampai di depan
sebuah indekos be- arsitektur Bali yang dipenuhi ukiran batu khas pulau Dewata.
Masih ada pura yang berdiri tegak dan tampak seorang pria memakai kemeja
kotak-kotak memegang sesajen yang ditaruhnya di atas dan sekeliling pura.
“Selamat sore pak
Dewa.”
Lelaki bertubuh
tambun itu membalikan punggungnya. Ia mengkerutkan dahinya seraya membuat udeng
yang dipakainya melonggar.
“Rani pak,
masih ingat kan?” katanya meyakinkan.
Suasana amat
hening, semilir angin berhembus. Lelaki itu membalas senyumannya.
“Ah, geg.
Apa kabar? kok tidak mengabari mau ke Bali.” ujar pak Dewa dengan logat khas
balinya.
“Maaf pak. Saya
kehilangan kontak bapak. Masih ada kamar kosong?”
**
Semakin
mendekati pukul tujuh malam dan seperti
biasanya keadaan jalanan di Bali pada jam-jam itulah serupa dengan Jakarta.
Menuju pusat kota kawasan Legian masih macet pada jam pulang kerja seperti itu.
Para pelancong sibuk mencari makan malam atau mencari tempat untuk hang out
menghabiskan malam di Bali.
“Pesan
cappucinno satu ya bli.” ia melihat sekeliling manusia-manusia yang tampak
sibuk di sebuah kopi shop kawasan Kuta.
Tiga tahun yang
lalu di “Maha seduh kopi” kopi shop tempat berkumpulnya para komunitas pecinta
kopi ini, Satria pernah mengajaknya menikmati kopi sembari menyaksikan
komunitas pecinta kopi melakukan tradisi cuping.
Lima orang pria
duduk tepat di hadapan meja barista meracik kopi. Ada tiga barista yang
bertugas, dua orang laki-laki dan satu perempuan. Sedang pria di depanya itu
masih duduk membuka masing-masing laptopnya. Ketiga barista ikut bergabung
membawakan cangkir-cangkir mungil yang berisi kopi hitam.
“Kau sedang
melirik apa? tertarik ingin mencoba?”
“Ah tidak, hanya
penasaran saja mereka sedang apa?”
“Cupping Test.”
Sang waitres
datang membawakan cappuccino pesananya.
Lamunanya terhenti lagi. Ia menyesap cappuccino yang bertekstur lembut
dengan aroma kopi Bali yang khas. Mengecapnya dalam-dalam kemudian mengeluarkan
kata ‘Ah” mungkin sebagian orang tak sadar ketika menikmati kopi nikmat mereka
akan mengelaurkan kata itu pertanda minuman itu nikmat.
Kembali pada
lamunanya dulu. Mereka duduk berdua menghampiri para pria yang sedang melakukan
Cupping test. Saling bergurau diantara cangkir-cangkir kopi di atas meja.
Mulai melupakan sejenak penatnya hidup dengan menyesapnya kemudian menyatukan
pikiran. Sebab tak ada yang jauh lebih indah selain menikmati secangkir kopi
bersamamu.
Para cupper
sebutan bagi mereka yang melakukan cupping test harus mengendus aroma
kopi dalam-dalam kemudian menyeruputnya dan menyebar cairan kopi ini hingga ke
belakang lidah.
“Seberapa
penting melakukan cupping?”
“Tergantung.
Kalo kau hendak bekerja di bidang kopi, itu akan sangat membantumu.” jawab
Satria
“Kopi itu
memiliki angka 81.” Lanjut satria memecah sendu melihat wanita di hadapannya
berkonsentrasi melihat para cupper.
“Apa artinya?” Rani
kembali menyesap kopinya.”
“Paduan caramel
gula enau yang sedikit gosong dan bubuk cocoa dengan sedikit aroma kulit jeruk
Sunkist kemudian aroma ketumbar hijau, lada hitam, dan cabai kering, dengan
akhiran yang meningatkan kita dengan gurih pahitnya alpukat yang dekat bagian
kulitnya.”
“blank….
Aku gak paham.” Satria menyunggingkan senyumnya.
“Sudah malam
ayo kuantar kau pulang.”
Menyesap untuk
ketiga kalinya. Sisa kopi tinggal setengah cangkir. Rani selalu menyisakan
akhir sesapannya. Sementara lamunanya kembali pada ruang yang semestinya.
**
Tak heran aku
lebih nyaman berbincang denganmu saja. Meskipun kala itu pandanganmu menatap
seorang barista yang sedang memepertunjukan keahliannya meracik kopi. Aku mulai
melupakan hari dimana aku akan terluka, melupakan hari-hari saat dimana tak
perlu sekonyong-konyong melibatkan soal menunggu atau cemas
mengenai keberadaanmu.
“Prakkkk….”
Seorang pria
menjatuhkan toples kaca yang dipenuhi
biji kopi yang usai di-roasting. Malam itu kedai kopi di kawasan Ubud
sudah tutup. Matanya sedikit ngantuk menuju sudut meja di belakang kedai kopi
bernama Nakula kopi shop.
“Di sudut itu.
Semua rasa manis dan pahitnya dicicipi.”
Semilir angin
melewati punggungnya kemudian masuk melalui celah pori-pori lehernya. Amat
dingin. Ia harus segera meninggalkan kedai sebelum pukul dua dini hari.
Setibanya di
rumah, pria berusia 28 tahun itu melempar ingatannya pada sebuah kotak bekas
yang masih tersimpan rapi atas lemari bajunya. Matanya terus tertuju pada kotak
berisi 500 gram biji kopi Kintamani Bali yang dulu sempat ingin dikirimnya
setelah Rani meninggalkan Bali selama
dua bulan. Tepat di ulang tahunnya yang ke 24.
“Seandainya
waktu bisa ku-ulang. Sekali saja, kubuatkan kopi ini untukmu.”
**
Paginya. Di
ujung meja seorang wanita sudah duduk menyandarkan punggungnya pada tembok yang
sengaja tak di cat. bertekstur kasar dan dipenuhi dengan bulir semen yang tak
rata. Kedai itu masih sepi.
“Baru kali
ini aku menemukan seseorang yang mencintai kopi sedemikian gilanya. Padahal kau
hanya sekadar menikmatinya. Tanpa ingin tahu lebih dalam tentang asal-usul si
biji hitam itu.”
“Aku suka wangi
kopi.” Ujar Rani membatin.
“Pasti ada
alasanya kan?”Rani terdiam tanpa menjawab.
Apa kau merasa
aku lecehkan saat aku memutuskan hidup yang menggantung? Seperti kopi hitam ini
yang membuatku nyaman untuk bersembunyi di antara pahit dan manisnya. Yang mereka
tahu, kopi ini hitam dan pahit. Padahal sudah kutaburi gula.
“Maaf ka, mau
pesan apa? kebetulan kami baru buka. Jadi mohon maaf tadi sedikit lama
menunggu.”
“Ah, tidak apa.
Aku yang kepagian datang. Kalo boleh aku pesan secangkir kopi Kintamani dengan
biskuit jahe.”
Aku tak ingin
kehilangan hari setelah ini atau bahkan menit-menit dulu sempat hilang. Seperti
hari kemarin yang mengajari betapa kehilangan-kehilangan ini tak akan pernah
lagi betul-betul menyakitkan.
Rani sibuk
dengan buku bacaannya. Di hadapannya terbentang hijaunya persawahan. Semilir
angin membawanya pada kenangan lama. Ketika ia duduk tertegun dibangku yang
sama.
Bahagia itu terlampau
sederhana. Cukup kau seduhkan kopi dan kita nikmati bersama.
Seorang pelayan
menaruh secangkir kopi Kintamani yang dipesannya. Setelah ucapan terima kasih
ditujukan pada sang pelayan. Ia mengaduk kopinya. Di dalamnya ada dua biji
kopi. Rani menelan ludahnya dalam-dalam.
“Kau sudah
datang?”
“Apa ada yang
hilang sampai kau kembali ke tempat ini. Padahal aku tak pernah menunggumu.”
Nafasnya
sedikit sesak. Ia menginggit bibirnya hingga hampir terluka. Menarik napas
dalam-dalam. Pria yang dirindukannya ada di hadapannya. Berdiri tegak, tapi ada
sedikit luka di hatinya.
“Tapi kau masih
berhutang padaku. Menikmati kopi di Kintamani. Tempat dimana asal kopi
Kintamani berasal. Bawa aku kesana.” Mereka kembali berbincang hangat dan lagi-lagi
kopi sebagai topic utamanya.
**
Terik matahari
tak pernah kutemui di Ubud. Selalu basah oleh gerimis atau mendung oleh kabut.
Itu salah satu alasanku lebih suka menikmati Kopi Hitam yang panas tanpa gula
bersamamu.
“Jadi hari ini
kau bolos kerja?”
“Menurutmu
bagaimana?”
Rani tertawa
lepas di atas sepeda motor metik yang dikendalikan oleh Satria.
“Masih suka
harumnya kopi?”
“Tentu. Sebab
sedalam apapun kau mencoba melupakan wanginya. Ketika kau mencoba mengingat,
aromanya akan tetap sama. Seperti perasaanku padamu.” Jantungnya berdetak
kencang. Satria kehilangan kata-kata. Ia mencoba terus fokus pada jalanan
menuju Kintamani di Bali Utara.
Udara yang
dingin dan subur adalah cerminan kawasan Kintamani Bali yang memang merupakan
sentra pertanian. Mata dimanjakan oleh hamparan luas pertanian jeruk, sayuran
hingga kopi. Ya, matahari memang selalu malu-malu menampakkan wujudnya di
kawasan ini. Mereka terhenti di sebuah
kedai kopi yang memang belum ramai didatangi pengunjung.
“Mari ku
kenalkan pada bli Bayu pemilik kedai ini.” Satria melepaskan jaketnya kemudian
menaruhnya di bagasi motornya.
“Udara di sini
amat sejuk. Aku tak sabar untuk menikmati kopi Kintamani dari daerah asalnya.”
Papar Rani tersenyum
Mereka duduk
diantara bilik rotan yang di anyam menjadi saung yang di dalamnya ada meja
tanpa kursi. Semua tamu yang datang menikmati kopi duduk lesehan. Tak lama Bli
Bayu pun datang membawakan kopi Kintamani. Dengan ramah ia bercerita mengenai
kawasan Kintamani yang dulunya masih hutan dan belum ada orang yang banyak
tertarik untuk datang menikmati kopi Kintamani ini.
“Rasakan
nikmatnya. Meski agak sedikit keras rasa pahitnya. Tapi akan membawa pengalaman
yang luar biasa buatmu geg.” kata bli Bayu tersenyum.
“Kau selalu
menyisakan sesapannya.” ujar Satria.
“Ya, sebab itu
yang terpahit. Seperti kenangan kita. Adakah yang lebih setia selain pahitnya
kopi ini Satria? dan ku ucapkan selamat atas pertunanganmu.”
**
Setidaknya kami
sudah menyelasaikan masalah hati. Meski pada akhirnya selalu kopi yang menjadi
penikmat saksi bisunya. Benar apa katamu. Aku tak ingin kembali ke Jakarta. Aku
terlanjur jatuh Cinta Padamu ‘Kopi Kintamani Bali’
Blog ini dibuat dala, rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com
Comments
Post a Comment