Pulang untuk KemBALI


 

Photo : By Me

Jakarta bukan lagi tempat yang ramah bagiku!!

Sosok yang biasa saya panggil Linggar itu lagi-lagi berkata ingin pulang setelah ia mengalami kehilangan sebab Ia tidak mahir dalam hal melupakan. Baginya Jakarta bukan lagi tempat yang ramah untuk disinggahi.

“Lebih baik kita mengopi saja malam ini,” ucapku mengalihkan pembicaraan

“Sudah jam berapa memang sekarang?”

“Masih pukul tujuh.”

“Sepertinya aku sedang tidak mau ngopi malam ini. Adrenalinku bisa terguncang.”

“Takut Mati?”

“Justru aku lebih takut hidup.”

Aku belum mengalami kehilangan yang menjadi penyemangatnya untuk bertahan hidup. Tidak heran, ia berkata lebih takut hidup ketimbang mati dalam damai.

Saya yang bekerja sebagai Jurnalis dan tidak memiliki jam kantor saja seringali merasa hidup ini terlalu membonskan dengan melakukan hal yang sama setiap harinya. Alih-alih menyemangati diri sendiri, saya selalu anggap semua yang sedang saya jalani bukan sebuah pilihan melainkan kesenangan.

Saya ingin kembali ke tempat dimana dulu saya pernah terguncang sekaligus menjadi titik awal perjalanan saya untuk tetap membuat hidup ini lebih hidup. BALI.  Sejak 2014 silam sampai pada akhirnya seringkali mengunjungi tempat ini. Tidak ada alasan khusus melainkan sebuah kata ‘Pulang untuk kemBALI’ itu tiga kata yang selalu saya ucapkan ketika di dalam bandara Ngurah Rai menuju bandara Soekarno Hatta.

 




Comments

Popular posts from this blog

Bengkel Tari Ayu Bulan

Perjalanan menuju Negeri Khayangan di Pura lempuyang

Secangkir Kopi yang Terselip Kisah